Rabu, 31 Maret 2021

Kependudukan

A. Pendekatan Masalah Kependudukan
B. Teknik Mengumpulkan Data
1. Sensus
2. Survei
3. Registrasi 
C. Teori Kependudukan
D. Komposisi Penduduk
E. Piramida Penduduk
F. Karakteristik Penduduk
1. Sex Ratio
2. Dependecy Ratio
G. Anti Natalitas
H. Pro Natalitas
I. Bonus Demografi
J. Mobilitas Penduduk
1. Non Permanen
2. Permanen 
K. Permasalahan Kependudukan di Indonesia
1. Masalah Kuantitatif
2. Masalah Kualitatif
L. Transisi Demografi
M. Rumus

Senin, 18 Mei 2020

Mitigasi Bencana

A. Pengertian
  1. Mitigasi
  2. Bencana
B. Jenis Mitigasi
C. Jenis Bencana Alam
D. Macam Bencana Alam
  1. Gempa Bumi
  2. Tsunami
  3. Gunung Meletus
  4. Banjir
  5. Angin Topan
  6. Tanah Longsor
E. Manajemen Bencana

Rabu, 24 Oktober 2018

A to Z Generation


Z, huruf terakhir dalam alphabet. Apakah ini petunjuk akan berakhirnya generasi ini. Generasi yang di impi-impikan akan melanjutkan cucuran darah para pendahulunya. Dengan penuh pengharapan, kami akan melanjutkan perjuangan untuk tetap menegakkan bendera merah putih. Oleh karena itu, kami berlomba-lomba menanam ilmu sebanyak mungkin, memanen prestasi secerah matahari, dan memetik target akhir kami. Menuju Indonesia maju.

Bersumpah akan tanah air yang kian menua, yang mulai sakit dan rapuh akan perlakuan keji kami yang tidak juga sadar. Kami pemuda pemudi Indonesia berjanji akan bertarung dengan teknologi yang telah mengambil alih pikiran kami demi harta. Merebut kembali kemanusiaan yang telah lama hilang dengan banyak korban jiwa yang telah hilang dengan tidak adil. Mengembalikan Indonesia yang dulu subur, makmur, tentram, dan adil. Yang kata-katanya sebagai surga dunia.

Menurut saya, Generasi Z bukanlah akhir dari sebuah generasi. Melainkan titik selesai semua pertikaian berakhir. Semua alphabet akan bersatu menjadi sebuah kata, kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf, yang kemudian menjadi sebuah cerita. Dimana semua akan mulai tersusun dengan rapi, dan akan muncul Indonesia yang baru. Sesuai dengan cita-cita para pejuang Indonesia. INDONESIA MAJU.

Senin, 08 Oktober 2018

Letih

Terlampau letih bahkan hanya untuk sekedar membuka mata. Menyunggingkan senyum. Dan serta merta menyapa orang-orang yang berlalu-lalang.

Bertanya-tanya kemana tenaga ini menghilang. Melewati hari yang sama, sama melelahkannya. Tapi mengapa mereka terlihat biasa saja, bahkan mereka terlihat ...baik.

Meminum segala racikan dokter dengan pegangan bahwa aku akan terlihat baik kembali. Tapi aku harus menerima kenyataanku, bahwa semua itu hanya sekedar angan-angan belaka.

Selasa, 02 Oktober 2018

Through The Night~



Malam biasa, sama seperti malam lainnya. Berkaca dan berusaha untuk tersenyum.

Walau hatinya selalu teriris begitu melihat senyum ini. Senyum palsu. Senyum yang sudah tidak lagi sama seperti dulu.

Dulu. Kangen berjumpa dengannya. Rindu akan kehadirannya. Tapi itu semua hanya mimpi belaka.

Berharap ketika ia mengistirahatkan tubuh nya, Tuhan akan mempertemukannya dengan Dulu.

Karena perasaan yang teramat rindu ini membunuhnya secara perlahan.

Ingin rasanya menyuarakan suara hatinya, berteriak pada seisi dunia bahwa ia sedang tidak apa-apa.

Tapi kemudian ia tersadar, dirinya hanyalah 'pilihan kedua'.

Bahkan ia tidak punya nama untuk dipanggil.

Mengistirahatkan tubuhnya yang sudah lelah dengan segala skenario dunia dan meluncurlah segala curahan hatinya.

Hanya dinding putih disampingnya lah yang menjadi saksi bisu segala keluh kesah, air mata, dan rasa nyeri yang tiada akhirnya itu.

Berharap malam akan membawanya ke tempat yang seharusnya.

Dimana segalanya berwarna putih dan tidak ada yang bersedih.
"You'll make it through the night, just hug your pillow tighter"

Rabu, 12 September 2018

Two Sides

Semua sudah selesai. Semua sudah berakhir. Darah yang mereka tumpahkan, keringat yang telah bercucuran, bekas tangis pun telah mengering. Segalanya mereka curahkan pada lembar kertas yang mereka hadapi selama 2 minggu lamanya. Menyerahkan segalanya pada titik akhir, Ketika sudah waktunya tiba, hanya tinggal keluhan penuh penyesalan yang ada. Kegusaran pun menyelimuti hari-hari berikutnya. Lalu, disitulah cerita dimulai. 

Berawal dengan dimulainya perang dingin tak kasat mata. Dua gadis yang habis dihajar oleh ribuan tulisan sebelumnya, kini terancam diambang kematian. Mereka saling sapa, senyum, bahkan bercanda. Tapi jauh di dalam lubuk hati mereka, mereka sedang berperang. Hanya orang-orang terdekat yang mengetahui seberapa besar perjuangan mereka dalam peperangan batin itu.

Mengawali pagi dengan senyum. Hanya mereka yang tahu senyum itu merupakan topeng belaka. Jauh di dalam nya mereka hancur, berantakan, meratapi perang batin yang kian lama kian parah. Tidak tahu harus berbuat apa. Tidak tahu jalan mana yang harus dipilih. Terjebak dalam labirin yang mereka susun sendiri.

Ingin rasanya menyudahi semua ini, batin mereka. Tapi lari dari masalah bukanlah solusinya. Jalan tengah pun semata-mata menimbulkan masalah lain. "Lo tau kan apapun yang terjadi, mau lo bener, mau lo salah. Di mata gw lo yang salah. Dia selalu benar. Gw tau gw salah dengan pemikiran gw, Tapi gw harap lo bisa ngertiin gw", akhirnya salah seorang gadis itu memecah keheningan di teras merah. Sore yang tadinya terlihat menarik ditemani dengan matahari yang mulai bersembunyi di belakang pohon besar pun terlihat biasa saja sekarang.

Perempuan dihadapannya yang kini terlihat pucat pun akhirnya membuang nafas guna melepaskan sesak di dadanya. Matanya melihat kesana-kemari, menahan dengan kuat-kuat air mata yang ingin jatuh. Menarik nafas, kemudian mulai membalas ucapan temannya tadi. "I know. Itu hak kamu kok. Aku ga marah". Sesekali ia melihat dan mencoba membaca raut muka gadis dihadapannya. Berjaga-jaga jika ia mengucapkan hal yang salah.

Mereka teman, sahabat bisa dibilang. Tapi salah satu dari mereka tidak akan pernah bisa lagi memandang sahabatnya sama seperti sebelum mereka diterpa badai. Ia belum atau mungkin tidak akan pernah bisa lagi percaya penuh kepada 'sahabat'nya itu. Dan gadis yang lain juga tidak bisa menganggap ia sebagai sahabatnya lagi. Ia juga perempuan yang butuh pelindung, yang juga ingin meluapkan emosinya, tapi ia tahu, ia salah. Ini semua salahnya. Ia berhak untuk mendapatkan perilaku seperti itu.

"Mungkin dengan berjalannya waktu gw bisa maafin dia. Mungkin. Dan mungkin emang gw yang salah dalam masalah ini. Tapi gw tetap ga bisa ngebiarin dia ngelakuin hal itu ke gw, mungkin belom. Dan mungkin gw akan terbiasa melukai diri gw sendiri. Mulai saat ini."

"Mungkin seiringnya waktu aku bisa terbiasa. Terbiasa dengan aku yang merasa terasingkan dalam pertemanan ini. Terbiasa mengalah, terbiasa mendengarkan cemooh, terbiasa menyalahkan diri sendiri."



Two sides. Two person. Two head. Two thought. Two point of views. Which side are you.

Related image 
 Credit to the owner.

They hide their feelings in public and went home crying,
Yet everyone else thought they were the happiest.

Senin, 06 Agustus 2018

Kobaran Api Abadi


Aku bisa mendengar detak jantungKu
Inilah saatnya
Selalu baru dan panas

Ayo mulai!

Mari kita pergi dengan lebih banyak kekuatan
Aku akan mengambil langkah menuju dunia



Lupakan semua kesulitan, biarkan saja
Sebarkan sayap Mu dan terbang,
Menuju angkasa raya

Terbang seolah Kau bermimpi
Beri Aku cahayanya
Aku ingin meniup pikiran mereka semua

Saat ini adalah waktu Mu
Kau adalah karakter utama
Merubah segalanya

Ya, ketegangan terbakar, sangat bagus
Nyalakan api agar orang-orang berbicara
Semuanya bersama, kail

Segera setelah kau pergi, tembak
Kami baru bertemu hari ini
Tetapi itu sangat gila

Kau adalah api
Aku ditarik oleh kehangatan Mu
Kau menyebar dalam diri Ku ketika Aku membuka mata

MataKu dipenuhi dengan api membara
Bahkan cahaya menyala di hatiKu
Aku akan membawamu sampai akhir,

Ikuti, ikuti Aku
Hatiku berlari cukup cepat
MembuatKu kehabisan nafas

Ibadat Doa Novena Tiga Kali Salam Maria